Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) ITS Dr Eng R Darmawan ST MT mengatakan sejak 2017 lalu, timnya telah melakukan pelatihan khusus yang diadakan untuk pelaku usaha penghasil limbah air kelapa tua di Kabupaten Ponorogo. “Selanjutnya, limbah air kelapa ini akan diolah menjadi pupuk organik yang berfungsi untuk memperbaiki lahan yang sudah terdegradasi unsur hara tanah,” katanya, Kamis (30/7/2020).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kuantitas produksi kelapa di Kabupaten Ponorogo sebesar 6.170,09 ton. Sebagai sentra industri UMKM yang utamanya menggunakan kelapa sebagai bahan dasar produksi, limbah air kelapa tua mudah ditemukan di daerah tersebut. “Limbah air kelapa tua tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal, padahal masih mengandung cukup nutrisi,” Sambung Dermawan.

Pelatihan demi pelatihan terus digagas Abmas. Meskipun tahun 2020 Pandemi Covid-19 sedang merambah, namun tidak menyurutkan Darmawan beserta timnya untuk melakukan penyuluhan dengan mengandeng pelaku usaha.

“Tahun ini dilaksanakan dengan cara pendampingan serta pemberian starter dan bioreaktor untuk melanjutkan eksperimen di rumah,” jelas alumnus Kumamoto University Jepang ini.

Lebih lanjut, Darmawan menjelaskan bahwa starter yang dimaksud adalah komunitas mikroba yang diekstrak dari lumpur lapindo dengan tambahan beberapa kali perlakuan sebagai suplemen komposisi bahan. “Dalam studi kami pada tahun 2018 lalu, terbukti bahwa campuran antara molasses limbah air kelapa dan komunitas mikroba tersebut dapat menjadi kombinasi yang baik dalam pemupukan tanaman,” urainya.
Tim yang terdiri atas Dr Eng R Darmawan ST MT, Dr Ir Sri Rachmania Juliastuti MEng, Ir Nuniek Hendrianie MT, Setiyo Gunawan ST PhD, dan Hakun Wira A ST MMT PhD melakukan eksperimen dari tahun ke tahun untuk memperbaiki kandungan Natrium, Phospat, dan Kalium (NPK) yang ada dalam pupuk. “Uji coba kami lakukan dengan memvariasikan jenis tanaman uji dan metodenya di salah satu pondok pesantren di Jombang,” ungkap lelaki asal Kertosari, Kabupaten Ponorogo ini.

Dosen bergelar Groundwater Environmental Leader (GeIK) ini mengapresiasi Bappedalitbang Kabupaten Ponorogo. “Semoga ke depannya pihak Bappedalitbang maupun pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo dapat meneruskan kompetensi ini lebih luas lagi,” pungkasnya penuh harap. (Redaksi).

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan