Home > Pendidikan > Mahasiswa USU Teliti Gerakan Literasi Parulian

Mahasiswa USU Teliti Gerakan Literasi Parulian

Sorotdaerah.com- Tertarik dengan Yayasan Pendidikan (YP) Parulian yang berhasil menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS,  Mahasiswa Jurusan Imu Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) Wita Afsari Surbakti pun menelitinya. Hasil penelitiannya itu kemudian dijadikan skripsi yang terbit pada 2018 silam. 

“Kami turut senang, sebab apa yang kami usahakan ini telah memberi banyak dampak baik bagi masyarakat, khususnya anak didik kami,” kata Sekretaris YP Parulian Erita Siburian di Medan, baru-baru ini.

Wita meneliti bagaimana program GLS yang diterapkan YP Parulian sejak 2016 silam. Penelitiannya difokuskan pada evaluasi apakah program GLS berjalan sesuai dengan panduan dari Kemendikbud.

Sebagai hasil, Wita menemukan, pengimplementasian di Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta Parulian 1 Medan telah sesuai dengan buku panduan GLS Kemendikbud. “Berdasarkan hasil penelitian saya, GLS di Parulian sudah sesuai dengan panduan yang dikeluarkan Kemdikbud. Lebih detail bisa dibaca pada skripsi saya,” terangnya.

Wita mengapresiasi konsistensi YP Parulian dalam menjalan GLS. Sebab gerakan literasi ini amat relevan dengan kebutuhan siswa di era informasi sekarang. Apalagi GLS ini, timpalnya, telah diterapkan secara terpadu dalam pembelajaran di kelas, sehingga membantu siswa memahami pelajaran dan mengembangkan kreativitasnya. “Terbitnya dua buku karya siswa Parulian juga menunjukkan kesungguhan sekolah ini menjalankan gerakan literasi,” pungkasnya.

Menurut Erita, selama ini YP Parulian telah menerapkan GLS melalui tiga tahapan, yakni tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan, katanya, siswa diwajibkan membaca buku selama 15 menit setiap hari sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan dan siswa diharapkan membuat jurnal pribadi.

Pada tahap pengembangan, siswa diarahkan untuk dapat menciptakan karya sendiri setelah melakukan tahap pembiasaan. Pembuatan karya tersebut dapat berupa resensi buku bacaan yang telah dibaca, menciptakan pantun, puisi dan cerpen. Sedangkan pada tahap pembelajaran terang Erita lagi, siswa dituntut untuk dapat bertanggungjawab dengan hasil karya yang telah dibuat. Biasanya hal tersebut dilakukan melalui persentasi yang dilakukan siswa di depan kelas dan dihadapan guru serta murid-murid lainnya.

Selanjutnya, ungkap Erita, faktor pendukung pelaksanaan GLS di sekolahnya adalah adanya buku yang disediakan sekolah di setiap lorong kelas dan juga pojok baca serta dukungan dari guru kepada siswa. Sementara itu ada pula faktor penghambatnya. Menurut Erita adalah masih adanya siswa yang minat membacanya rendah, murid yang ribut pada saat kegiatan membaca berlangsung sehingga mengganggu konsentrasi murid lainnya. (Red)

You may also like
Pelita Mutiara, Role Model Semangat Literasi
Sekolah Tua Berjuang Membangun Budaya Literasi
INOVASI Dukung Bulungan Implementasikan GLS  
Mahasiswa USU Bentrok
Penganiayaan Terhadap Mahasiswa USU, Rektor USU Biarkan Pelaku Satpam
Literasi Harus Diintegrasikan Dalam Pembelajaran

Leave a Reply