Home > Ufuk > Mahasiswa Live In, Dong!

Mahasiswa Live In, Dong!

PANDANGAN Aktivis Adian Napitupulu soal kartu kuning ketua BEM UI ke Jokowi biasa-biasa saja. Dalihnya, Zaadit si pengangkat kartu kuning sama sekali tidak pernah pergi ke Asmat. Sedangkan Presiden Jokowi sudah delapan kali ke sana. Dengan demikian, “Legitimasi moralnya (aksi Zaadit) lemah sekali,” kata Adian.

Adian menganjurkan agar mahasiswa live in di tengah masyarakat, sebelum terjun menyuarakan sebuah aspirasi lewat aksi yang mengatasnamakan rakyat.

Terlepas dari diskusi kartu kuning yang debateble itu, redaksi kami menilai, bemar sekali apa yang diusulkan Bung Adian. Mahasiswa amat penting live in (untuk jangka waktu tertentu) di pemukiman penduduk. Tujuannya guna mengetahui, menggali dan mendengar serta melihat langsung persoalan yang di hadapi warga.

Dengan live in, kita bisa menggali data dan fakta secara akurat. Tidak lagi kita bergantung pada apa yang disajikan media semata. Sebab, media punya garis kebijakan sendiri. Yang mana garis kebijakannya itu mempengaruhi cara mereka menyajikan data dan fakta.

Kita bisa belajar dari sosok Butet Manurung. Dia tidak koar-koar soal anak rimba Jambi. Ia memilih live in di sana dalam jangka waktu sangat lama. Ia menghabiskan umurnya sekian tahun di belantara belukar Jambi. Ia mengabdi penuh dedikasi. Hingga di kemudian hari, invisible hand menggerakkannya untuk membukakan mata dunia, bahwa di balik rimba Jambi, ada kehidupan yang awet dan patut diselamatkan.

Dengan live in, Butet mengenal lebih luas karakter manusia rimba, tetek bengek mereka bahkan inspirasi yang kaya dari rimba. “Justru saya yang belajar dari anak-anak rimba ini,” kata pendiri Sokola Rimba itu.

Live in, sebuah metode mengenal masyarakat. Namun janganlah datang ke suatu tempat untuk live in dengan agenda jahat. Datang dan tinggallah di sana dengan membawa sebuah niat baik. Dan resapilah segala inspirasi yang kaya di sana. Itulah sedapnya bisa live in. Bisa menyaksikan langsung berbagai hal dan kita turut terlibat di dalamnya.

Dengan live in, mata kita makin terbuka. Sayangnya, tradisi bergaul karib dengan masyarakat ini yang mulai sedikit kendor dari komunitas mahasiswa kita. Tradisi live in mulai tidak dianggap menarik. Ini yang perlu disikapi mahasiswa.

Soekarno bilang, kamu harus sampai dekat dengan masyarakat. Sedekat urat nadimu. Ya, musti begitu! (*)

You may also like
Kisah Yang Belum Usai
Mahasiswa Unimed Sabet 3 Medali Emas di Kejuaraan Silat
Edarkan Sabu, Dua Mahasiswa Ditangkap di Medan
Petik cabai, Seorang Mahasiswa Masuk Bui
Terkait Korupsi Mantan Gubsu Mahasiswa Desak KPK Bertindak
Wakapoldasu Anjurkan Mahasiswa Jangan Ragu Gali Potensi

Leave a Reply